MS: Maroef Sjamsoeddin
SN: Setya Novanto
MR: Muhammad Riza Chalid
MS: Assalaamualaikum Pak
SN dan MR: Widiiiihh
SN: Gak keluar Pak
MS: Enggak Pak, ada tahllilan.
SN: Gak ke Solo?
MR: Besok?
MS: Ke Solo kan lusa
SN: Kan acaranya 11, Kamis ya
MR: Bukan 12, kata Lucas. Pak Luhut pesen musti
ketemu dia.
SN: Yang bayar duluan
MR: Gua duluan ya.
MS: Wah ramai
MR: Loe mau ngikut pesawat gua gak.
SN: Pak Luhutnya kan
MR: Gua sebentar, gua salaman, gua ketemu Pak
Luhut gua kabur ke airport. Habis mau ngapain lagi lama-lama, yang penting buat
kita nongol, salaman, ketemu Pak luhut udah.
MS: Airport sama kota kan deket.
MR: Iya
MS: Cuma macetnya Solo itu.
MR: Kalau gak naik itu, bisa jam 3 hari hari.
Kalau mau. Tapi kira-kira kan bapak kira-kira sudah dapat Garuda kan. Freeport
nyupport? (untuk pernikahan anak Jokowi)
MS: Nggak ada. Nggak ada kita
MR: Maklumlah presidennya, sudah banyak. (ketawa)
MS: Tidak mungkin juga terbatas kali. Bikinnya
kan di Solo. Kalau seperti Pak SBY dulu bikinnya di istana kan besar-besaran.
Kapasitasnya juga besar.
MR: Ini cuma 2000, 3000.
MS: Itu yang diundang. Belum keluarga. Kapasitas
terbatas.
SN: Saya ditanyain wartawan di kita, Pak itu kan
dibatasi oleh Menteri PAN hanya 400. Presiden sudah 2000-3000. Ya nggak ada
masalah, namanya masyarakat pengin ketemu presiden.
MS: Menteri PAN kan kadang masih ecek-ecek. Dia
pikir, entar gua ngawinin gua sudah pensiun. Ya kan, anaknya Menteri PAN kan
masih kecil-kecil. Bayangin aja 400.
MR: Suka-suka dia Pak
MS: Susah Pak, budaya orang Indonesia kan ndak
bisa begitu Pak. Bagi orang barat 400 sudah besar banget
MR: Pak Syaf waktu ngawinin anaknya, banyak,
pokoknya gua gak peduli. Pesta gua yang bikin.
SN: Syaf siapa?
MR: Syafruddin.
SN: Ooo
MR: Banyak yang datang.
MS: Mana mungkin itu pak.
MR: Tapi jangan saya katanya gitu. Ada aja
alasannya.
MS: Susah pak budaya kita budaya kekeluargaan
SN: Nanti saya Desember. Eh membengkak
MR: 9000 lebih. Yang bikin acarnya caranya gitu.
Jadi caranya undangan yang kanan untuk besan saja, yang kiri kita. Jadi bukan
saya yang undang tapi besan saya. Selesai
-------
SN: Saya itu pak, sudah ketemu presiden, waktu
sampai ada 5 pimpinan negara lainnya. Ada ketua MA, Ketua KY, Ketua MK. Saya
bilang Pak, bapak ke Papua. Iya kata presiden. Padahal di sana gak ada yang
jemput. DPRDnya, bupatinya, gubernurnya. Kesel juga. Soal PSSI macam-macam.
Saya bilang bikin itu saja istana di papua. Setuju pak, kata presiden. Masak
ada Tampak Siring, Bogor. Masak di sana tidak ada. Saya sudah lihat di sana ada
tanah kosong, depannya laut. Jadi secara politis ke depan pasti ke sana. Semua
manggut-manggut. Lagi seneng dia. "Freeport itu saya sudah ketemu Jim Bob,
Dirutnya, saya minta dipertimbangkan. Waktu itu dengan menteri itu, soal
perpanjangan itu kan DPR minta untuk duduk. Sedangkan sekarang kan ada tiga
hal, kemarin menteri ESDM menemui saya di Surabaya, khusus bicara ini. Beliau
bicara tiga hal. Satu, penerimaan minta ditingkatkan. Kedua adalah privatisasi,
permintaan itu 30 Juta untuk 51%. Mana mungkin saya bilang gitu. Ketiga adalah
pembangunan smelter. "Oh oke Pak Ketua. Kalau berhenti itu soal penerimaan
saya gak sependapat Pak Ketua. Karena kita itu paling hanya nerima 7-8
triliunlah. Tapi kita keluarkan dananya untuk di Papua, Otsus itu, kita 35 T.
Ndak imbang". Tapi kan itu udah dibantu CSR. "Iya tapi tidak cukup
Pak ketua". Kita besar sekali.
Kedua kalau smelter. Kalau di sana bangun smelter
di sana lebih banyak rawa. Jadi kuatirnya waktu. Kalau lihat gitu saya lihat di
Gresik ada smelter kecil yang tinggal diterusin. Terus di sana juga ada pabrik
semen juga untuk pupuk yang penting kan pakai dana sendiri, tidak melalui dana
perbankan kita. "Kita harus paksa supaya cepat-cepat dibangun". Ya
kalau gitu. "Habis itu baru Timika, Pak Ketua". Yang mana duluan Pak.
Dia diam saja. "Yang ketiga, soal apa Pak Ketua". Soal penyerahan
soal sahamnya itu, kan sudah 30 % diminta 51%. Itu tidak mungkin Pak. Ini kan
sudah berbagi dengan daerah yang 250 ribu Ha itu, susah juga. Kebayang juga
dengan kabupaten lain. Ini tidak mungkin. Terus dia diam saja. Pak Luhut cuma
bilang: kita runding. Pas saya makan, presiden samperin saya. "Ini kan Pak
Luhut. Itu apa Pak Luhut sudah bicara belum". Oh iya sudah Pak, Pak Luhut
yang banyak memberikan pendapat. Bagusnya kalau bisa segera. Ngobrol-ngobrol
itu. Oh iya sekarang Pak karena sekarang sudah waktunya.
Lalu saya pulang. Saya mau rundingan dengan sama
Pak.. Jangan-jangan ini karena yang dulu ada keributan antara anak buahnya Pak
Luhut, Si Darmo dan si siapa itu, Sudirman Said diekspos. Ini minta diklirken.
Saya akan ngomong ke Pak Luhut. Ya udah. Makanya perlu ketemu itu. Hahahahaa
-----
MR: Jadi gini Pak. Ini bahan dari Pak Luhut dan timnya.
Sudah baca?
MS: Perpres sudah baca yang percepatan
pembangunan ekonomi Papua.
MR: Jadi mereka itu kan mau maju dulu dibangun di
sana. Apa sudah ada konsep di sana? Dari Pak menteri
MS: Oh tidak begitu.
MR: Jadi tetap di Gresik
MS: Oh ndak, UU tidak mengatakan begitu. PP juga
tidak mengatakan begitu. Jadi pemurnian harus dibangun di dalam negeri. PPnya
juga begitu, Pemurnian itu dilakukan 100 persen di dalam negeri. Kemudian
tanggal 23 Januari 2015, pas setengah bulan yang lalu, itu persyaratan untuk
memperpanjang izin ekspor harus melengkapi, salah satu diantara enam itu harus
menentukan eksak location. Satu lagi soal feasibilty study. Dapatlah di Gresik.
Jadi tidak ada yang mengatakan harus di Papua . Setelah kita umumkan di Gresik
dan kita tanda tangani 23 Januari itu baru muncul Pemda Papua yang mengatakan
harus dibangun di Papua.
SN: Terus janji presiden
MS: Ya betul, kemudian Presiden ke sana, janjikan
oke kalau gitu dibangun. Kalau kita bangun di Papua siapa yang mau kasih. Di
Gresik saja sudah 2,3 M. Kalau di Papua bisa hampir 4 M. Dari mana mau dananya.
Gak mungkin bangun di Papua.
MR: Ya ya. Jadi begini Pak, soal itu saya ngomong
sama Darmo. Saya bilang Darmo siap ya. Dia kan ngurusi semua. Dia akan
melihatnya ini kalau perlu biayanya besar juga.
SN: Pengusaha juga
MR: Kalau Ini tugasmu untuk mengamankan. Jadi
saya sudah bicara, Pak Jokowi. Urusan dia saya. Dia dipakai Pak Luhut semua.
MR: Soal saham itu ada pemikiran, PLTA.
MS: PLTA? Yang mau memiliki sahamnya siapa Pak?
MR: Ada nominenya, punya Pak Luhut.
MS: Pak Luhut
MS: Yang sahamnya itu juga maunya Pak Luhut itu
jaminan guarantee itu dari Freeport untuk saham itu. Seperti dulu yang
dilakukan oleh Freeport kepada pengusaha.
SN: Pak Luhut pernah bicara dengan Jim Bob di
Amerika.
MR: Jadi kalau itu bisa diolah, ini rahasia yang
tahu cuma kita berempat ya Pak. Diolah gitu.
MS: Pak itu harus ada yang perlu dihitung pak
sekarang. Waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Dari enam isu yang saya
kasih Pak Ketua itu, waktunya tinggal 6 minggu dari sekarang. Kalau itu tidak
keluar, katakanlah 23 Juli nanti, tanggal 1 Juli tidak ada kepastian, maka kita
akan arbitrase internasional
MR: Apa?
MS: Arbitrase internasional jalan. Tidak ada lagi
itu. 1 Juli lah pak sudah ada kepastian. Sekarang apa guaranteenya kalau
permintaan itu dipenuhi, ini juga keluar. Apa garansinya kalau permintaan itu
ada singnal, 1 Juli sudah ada signal, apa garansinya? Ya to Pak. Apa garansinya
MS: Ini kan masih di Solo.
MR: Ya ketemunya di sinilah. Ketemu Pak Luhut,
ini kan masih ada kesibukan. Habis itu baru.. Habis itu Jumat ke Pak Luhut.
Harus ditugasin itu dia. Kalau bisa tuntas dan minggu depan sudah bisa
settlement. Tanggal 22, seperti usul lalu, Itu yang sekarang sudah kerja. Kita
sudah approach beberapa kali. Benar. Kalau Freeport memiliki 15 %, kita pasti
bilang.
MS: Kalau tidak salah ada feasibility study, coba
ditinjau lagi. Kalau tidak salah Freeport itu off taker.
MR: Itu tadi Pak. Saran saya jangan off taker
dulu. Kalau bapak off taker dulu itu akan ada di kedua belah pihak.
MS: Dari mana.
MR: Dari third parties yang...
MS: Bapak juga nanti baru bisa bangun kalau kita
kasih purchasing guarantee lho pak.
MR: Oh ya betul
MS: Ketergantungan bukan dari third party tapi
dari kita dong.
MR: Oh iya, tapi kan kalau bapak ikut bikin kan,
bapak ikut mengendalikan. Bapak bikin PLTA-nya, bapak ikut mengendalikan
MS: Artinya investasinya patungan, 49, 51.
MR: Iya.
MS: Investasi patungan. Tapi off taker kita juga.
MR: Iya
MS: Kalau gitu double dong.
MR: Enggak double Pak
MS: Modal dari kita, kita juga yang off taker.
Anu, kita bicara dulu di depan, supaya kita bisa mengolahnya.
MR: Pak Off taker itu hanya sugar guarantee
MS: Iya purchasing guarantee
MR: Purcahsing guarantee itu tidak ada uang
keluar. Hanya guarantee. Maka cuan. Uang keluar itu hanya unruk pembangunan.
Kalau itu bapak juga harganya bisa dikontrol pada yang wajar.
SN: Harga itu sektor terbesar.
MR: Iyalah itu kira-kira. Harga perlu
dikendalikan yang wajar. Atau kalau terbalik, kalau pure itu, itu kan satu
deal. Misalnya Jim bilang Freeport gak usah ikut. Silahkan yang lain, murni.
Investor banyak yang mau, gak susah kalau Freeport. Marubeni ngotot mau masuk
situ, Cuma harga tinggi. Itu maksud saya Pak. Justru kita sebagai lokal, merasa
nyaman kalau itu opsinya sama Freeport. Dibandingkan kalau sama orang luar.
China pun ada yang mau Pak.
MS: Ini yang Pak Riza sampaikan yang lalu sama
Dharmawangsa itu kan
MR: Iya. Itu harganya yang wajar. Bukan harga
yang tidak ketinggian tidak kerendahan. Kan PTnya milik bapak juga, 51 %. Nanti
bapak juga jangan sampai menekan ke induk usaha Freeport, pertambangan.
MS: Kuncinya kan itu lagi, surat perpanjangan
itu. Tidak mungkin keluar purchasing guarantee kalau tidak. PLTA mau dibangun
itu kan untuk underground mining. Underground mining baru bisa dipastikan mau
dilanjutkan kalau ada perpanjangan.
MR: Betul perpanjangan. Ini Komitmen itu
dibutuhkan. Komitmen itu belum off take guarantee belum Pak
MS: Lho kalau komitmen, Freeport komitmen. Begitu
ada perpanjangan komitmen kita akan jalankan. Saya pertaruhkan itu.
MR: Itulah pak yang perlu duduk itu komitmen
MS: Karena tidak mungkin itu pak. Freeport sudah
menanam 4 M dollar. Sudah yang mempersiapkan underground, untuk infrastruktur
dan pesiapan operasional, meskipun tanpa kepastian. Jadi jangan ragu dengan
komitmen. Terus untuk smelter Desember nanti kita taruh lagi 700 ribu dollar,
itu commitment fee. Itu Desember. Tanpa ada kepastian lho Pak. Karena kita
tidak tahu dianggap tidak komitmen
MR: 700 juta ya Pak?
MS: Sorry 700 juta dollar. Apalagi yang kita
kurang komitmen. Tidak perlu komitmen lagi. Ini sudah komitmen. Ndak ada ndak
ada
MR: Tapi kira-kira kalau konsep tadi mau ambil
apa enggak?
MS: Saya nggak jamin mau apa nggak. Tapi kasihkan
dulu itu Pak.
MR: Wah kalau ada 700 juta, proposal gitu gua
lepas ini
SN: Artinya kalau ada opportunity.. Kan ada di
Pak Luhut
MS: Signed dulu itu.
MR: Singned itu pasti itu akan segera
MS: Tapi kalau dengar penjelasan Pak Ketua tadi
sayanya enggak begitu jelas. Dari Pak Jokowi ya enggak jelas
SN: Kalau Pak Jokowi itu dia, beliau sudah setuju
kalau sarannya untuk di Gresik. Tapi berikutnya di Papua. Tapi ada
ujungnya-ujungnya, waktu saya makan itu "Pak Ketua sudah bicara belum Pak
Luhut, saya disuruh ngadep ke Pak Luhut, ngobrol-ngobrol. Saya langsung tahu
ceritanya ini waktu rapat, yang terjadi antara si ESDM dengan Darmo. Kalau
menurut saya, memang Pak, Presiden itu ada yang mohon maaf ya, ada yang
dipikirkan untuk ke depan memang. Kalau dilihat dari, karena dia dengar Pak Jusuf
Kalla itu kan terjadi begitu, makanya selalu menyinggung masak Jusuf Kalla
terus. Kalau lihat begitu memang dia
MS: Ada ganjalan
SN: Ada ganjalan. Makanya kita harus menutupi.
Gak habis-habis
MS: Mempercantik
SN: Mempercantik. Tapi kalau pengalaman kita,
artinya saya dengan pak Luhut, pengalaman-pengalaman dengan presiden, itu
rata-rata 99 % itu goal semua Pak. Ada keputusan-keputusan penting kayak Arab
itu, bermain kita. Makanya saya tahu. Makanya Bung Riza begitu tahu Darmo,
dimaintaince, dibiayai terus itu Darmo habis-habisan supaya belok. Pinter itu
MS: Anu The lobbies
(MS, SN, MR ketawa)
SN: Itulah
MR: Pak, Pak. Hubungan Pak Luhut itu dekat sekali
dengan Pak Jokowi. Kalau kasih sign beliau keluar, kasih sign, eh beliau
kayaknya begini gini, rahasia ya. Ngerti nggak. Paling nggak Pak, kalau saya
bilang confirm on, kalau meleset saya habis Pak.
MS: Ndak Pak. Kalau meleset komitmen, kalau sudah
keluar komitmen tidak akan meleset Pak. Kalau sudah keluar komitmen. Seperti
saham berapa persen Pak.
MR: Itu yang saya juga belum, yang belum
MS: Bapak harus jelas juga berapa persen
sahamnya. Karena itu bukan uang kecil lho Pak soal saham itu dan nilai aset
Freeport itu bukan main.
MR: Kedua, nilainya berapa. Sama yang itu kan
diambilnya harus untung, biar pinjaman bisa recover
MS: Mungkin harus jelas juga Pak, supaya anunya,
perhitungannya lebih jelas juga
MR: Bapak itu sudah jalan divestasi sudah berapa
persen?
MS: 30 % yang sudah jalan
MR: Yang sudah jalan 9 persen dong
MS: 9,3 %. DIpegang BUMN
SN: Kalau gak salah itu Pak Luhut sudah bicara.
MR: Pak Luhut sudah bicara
SN: Pak Luhut bicara dengan Jim Bob. Pak Luhut
udah ada unek-unek Pak
MR: Pak, kalau gua, gua bakal ngomong ke Pak
Luhut janganlah ambil 20%, ambillah 11% kasihlah Pak JK 9%. Harus adil, kalau
enggak ribut.
SN: Iya. Jadi kalau pembicaraannya Pak Luhut di
San Diago, dengan Jim Bob, empat tahun lalu. Itu, dari 30 persen itu, dia
memang di sini 10 %. 10 persen dibayar pakai deviden. Jadi dipinjemin tapi
dibayar tunai pakai deviden. Caranya gitu, sehingga menggangu konstalasi ini.
Begitu dengar adanya istana cawe-cawe, presiden nggak suka, Pak Luhut ganti
dikerjain. Kan begitu. Sekarang kita tahu kuncinya. Kuncinya kan begitu begitu
lhp hahahaha. Kita kan ingin beliau berhasil. Di sana juga senang kan gitu.
Strateginya gitu lho.. Hahahaa
MS: Lobbies
MR: Untuk pertama kali, berapa yang saya olah.
Disampaikan, kalau cawe-cawe kan dia juga kerja di konsultan. Dia kan kalau
konsultan datang, dia langsung bikin titik.
MS: Ada saya baca..
MR: Saya punya presentasinya. Habis presentasi
sedetil itu, habis itu langsung saya telpon. Tanggal berapa itu
SN: Sekarang sudah digarap sama Bung Riza.
Hahahaa. Saya tahu Pak..
MS: Tanggal 14
MR: Memang kita tidak mau mencampuri politik.
Tapi kenyataannya barier politik itu ada. Kerjanya cepat..Makanya..dan happy.
KIta akan kasih pengertian. Pak Luhut pasti oke. Karena Pak Luhut gak terlalu
gini juga. Kita happy-happy semua Pak. Kalau bapak happy, kita semua juga
happy.
SN: Kita happy Pak kalau Bung Riza yang mengatur
MR: Bukan, kita kerja, kita kan sunggung-sungguh
kerja ya Pak ya. Ada prospek. Insya Allah, Allah kasih rezeki. Berjalan. Kan
masalah banyak disitu. Sampai empat tahun Pak
MS: Nggak setahun saja, ini selesai urusan
monster.
MR: Kalau itu itu bisa sampai 25 tahun
MS: Lama itu Pak. Nggak cuma ini aja Pak. Setiap
pembangunan di Papua nanti butuh power tinggal nambah, nambah, nambah Pak.
SN: Pinter ini dibayar sama itu
MR: Menurut saya, cara itu elegan. Freeport yang
kontrol, harga dikendali. Freeport bantu cari guarantee, pinjaman. Terus, di
sana cicil bagus, bisa kredit guarantee sesuai. Yang enak gitu lho pak.
Freeport yang kontrol, semua jalan semua. Pengendali. Kalau kita bikin CSR ke
orang-orang kampung kita bisa. Ada Freeport juga di situ. Itulah Pak, bagus
sekali itu. Kalau itu misalnya sama China. Jepang itu lain lagi.
MS: Teknologi mau pakai teknolohi mana?
MR: China? Gampang itu Pak
MS: Enggak, kalau begini Pak
MR: Dari China. Oh bisa
MS: Ini kan perusahaan Amerika, harus dilihat
juga. Jangan lupa yang kecil-kecil gitu. Biar strateginya nyambung nanti pak
MR: Turbin dapat kredit ekspor dari sana.
MS: Itu Pak, smelter Papua sudah ada statement
bersama. Pemda Papua akan mencari investor. Statement bersama dihadiri oleh
Komisi 7, Ketua DPRP, Ketua MRP, ada Menteri ESDM. Statement bersama.
SN: Yang waktu itu ya
MS: Iya. Dan gubernur mendukung pembangunan
smelter. Freeport di Gresik. Kalau dia punya smelter jadi, Freeport akan
menyuplai konsentratnya dengan perhitungan B to B ke smelter yang sudah ada
akan dibangun. Begitu Pak
SN: Perjalanan tambah sudah mulus dong
MS: Sudah ada komitmen, Gubernur Lucas itu sudah
mengeluarkan statemen itu. Cuma kan ada kemungkinan, ini gubernur punya
pemikiran bahwa semua smelter semua spesifikasinya sama. Di setiap komoditas minerail
itu, mainnya itu beda. Tidak bisa tembaga atau emas itu makan nikel atau
bauksit. Di pergi ke China nyari. Teknologinya nikel dan bauksit. Kalau
teknologi tembaga emas itu adanya di Jepang. Dia salah langkah Pak. Gitu lho
Pak. Makanya dia agak mandeg mau membangun smelter. Kan teknologinya beda pak.
Njlimet itu pak teknologi setelah saya pelajari. Yang top itu teknologinya
Mitshubishi.
MR dan SN: Ooooooo
MS: Untuk smelter. Memang gila itu, Jepang memang
top. Tidak pakai kimia, tidak pakai kimia, semua fisik. Makanya Freeport itu
tidak ada proses kimia dalam pemurnian. Salah langkah dia untuk Papua. Harusnya
dia lakukan ini dulu, sudah bentul. Bangun dulu Papua secara keekonomian.
Bangun dulu infrastruktur Papua secara keekonomian. Jangan bangun smelter dulu
di depan. Bagaimana mau bangun smelter kalau enggak ada listrik, enggak ada
pelabuhan, enggak ada jalan, enggak ada air bersih, enggak ada gas. Mahal Pak.
Bangun dulu nilai keekonomian. Makanya itu Keppresya sudah betul. Makanya
Bappenas, sudah cocok itu. Bangun dulu infrastruktur, bagun pabrik semen,
pabrik pupuk.
SN: Sudah Pak. Kemarin itu saya diarahkan sama Bu
RIni, menteri ESDM jadi nanti itu ditunjuk di Bintuni. Bintuni itu arealnya
6000 hektar. Itu dibuat di sana itu pabrik pupuk, Antam juga disitu, pelabuhan
bukan hanya Sorong pak tapi di situ. Sehingga ini sebenarnya untuk menunjang
perekonomian itu. Ini lagi mulai pembuatan-pembuatan itu yang pihak Dirut
Antam, Pak Budi ketemu saya waktu itu, memang betul sedang membuat. Gasnya
selain gasnya itu dari apa itu yang di sana.
MS: Tangguh
SN: Tangguh, tetapi juga dari Malaysia, dari
Ginting. Mereka dapat itu
MR: Genting, genting
SN: Genting
MR: Benar itu Pak. Ada 5 TCf cadangan di Papua.
Itu yang akan disuplai ke tempatnya bapak.
MS: Bintuni kalau mau membawa nanti konsentratnya
dari Timika, coba dilihat kondisi geografinya Pak, bagimana berapa cost
deliverynya. Faktor cuaca melalui laut. Kalau lewat darat wah pembangunannya
gila berat, very costly. Bapak harus lihat line costnya, garis pantainya untuk
membawa konsentrat dari Timika ke situ.
SN: Yayaya.
MS: Kenapa tidak dari Timika dibawa ke Gresik.
Karena line costya gampang. Kalau mau dibawa ke Papua harus lihat dari garis
pantai
MR: Ooo geografi dengan costnya ya.
MS: Harus lihat itu Pak. Modal
MR: Kalau begitu, tidak ada jaminan pupuk bangun,
tidak ada jaminan semen bangun. Sehingga revisinya. Makanya gandeng kita. Mau
bangun enggak, gitu. Tapi kalau dipressing nggak ada semua. Orang yang ngasih
duit uang ke Freeport, sudah pasti oke, sudah pasti dibeli nih
MS: Off takernya banyak.
MR: Banyak off takernya.
SN: Iya purchasing guarantee
MS: Harus integreted Pak. Susah ini pak
MR: Kalau orang mau menggaransi, off taker baik
pasti bangun pabrik pupuk. Bangun di sana
MS: Itu nanti menjual hasil konsentrat itu secara
internasional juga harus dipikiran marketnya
SN: Kalau semen itu Pak, pada akhirnya bisa
dibangun di situ gak, Di Timika? Kalau seandainya presiden sudah setuju. Udah,
Pak Ketua kita di sini, tapi harus janji di Timika, sesuai permintaan itu
bangun pabrik semen di sana
MS: Pak, masalah lahan di Papua itu juga masalah
besar. Masalah hak ulayat itu susah. Pak Riza mau bangun di sana, berhubungan
sama yang punya, Pak Iza sudah bayar. Nanti pamannya datang kamu bayar ke dia,
saya mana. Datang lagi keponakannya. Itu yang bikin perang suku Pak.
sumber:
http://print.kompas.com/baca/2015/12/02/Inilah-Transkrip-Percakapan-Setya-Novanto-dan-Riza
Tidak ada komentar:
Posting Komentar