MS: Maroef Sjamsoeddin
SN: Setya Novanto
MR: Muhammad Riza Chalid
MR: Itu mirip di Padang. Sama kalau di Padang
MS: Kepastian hukumnya tidak ada. Ada kebon sawit
besar bagus cantik udah jadi Pak. Tiba-tiba ditutup sama gubernur katanya
merusak alam. Kasihan Pak buat investor. Itu orang nggak jadi males
menginvestasi
MR: Provinsinya Dajjal
MS: Betul Pak zamannya Dajjal
MR: Sama Pak. Gila itu. Itu waktu Riza
mengondisikan ngurusi gula, sudahlah begini begini, dia sudah kuasai lahan Pak,
pada waktu itu. Beda kongsi. Gua ketawa aja. Makan dulu, kalau udah jalan 5
tahun baru saya ambil.
MS: Diganggu?
MR. Ya enggaklah. Dia juga memulai itu jalan
pelan-pelan sekarang. Miliknya Antam. Akhirnya dia bikin pabrik gula di NTT.
Hmm begitu
MS: Ati-ati Pak. Betul Pak.
SN: Ngeri, makanya bolak-balik situ.
MR: Tentara
MS: Saya sudah dari 1983 sudah ke Papua.
SN: Oh oke
MS: Saya sudah tahu Papua, bagaimana
antropologinya. Hati-hati Pak, gak semudah itu.
SN: Yayayaa. Percaya Pak
MS: Gak semudah itu Pak Papua. Mengedukasi mereka
untuk merasa bahwa mereka akan dibangun untuk kesejahteraan mereka, tidak mudah
Pak. Costnya tinggi Pak, betul. Kita bangun sekolah, minta dibangun rumah
sakit. Tapi kalau ajak pers, hormat bapak. Masak kita sinterklas terus.
MR: Itu ya Freeport pernah bangun pagar yang
bagus, yang indah itu buat di gedung. Itu yang bikin perusahaan gua. Punya
pabrik di Bandung. Itu besinya di bawa pakai pesawat ke sana. Pegawai saya di
bawa pakai pesawat. Gak tahu masih ada apa enggak sekarang. Loe bayangin,
tukang-tukang gua naik pesawat
MS: Anu itu memang soal sikap mental Pak.
MR: Sadis itu, memang tidak gampang
MS: Kalau mau pembebasan lahan itu tidak mudah
lho pak. Kalau tidak salah itu tiga kabupaten untuk PLTA itu.
MR: Kalau itu mudah-mudahan bisa cepat. Karena.
MS: Yang anti sama gubernur juga banyak lho pak.
Yang dulu sakit hati sama gubernurnya sekarang sudah mulai kuat lho Pak.
MR: O ya
MS: Iya. Wagub itu belum tentu bisa jalan sama
gubernurnya.
SN: Papua sama Papua Barat
MS: Papua. Coba tolong dimatangkan mengenai
saham.
MR: Yang saham. Soal saham itu, saya bicara ke
Pak Luhut. Kita sudah bicara. Weekend saya ketemu. Biar Pak Luhut yang bicara
ke bapak
SN: Biar cepat selesai
MR: Kan ini long weekend, Hari minggu nanti, saya
temui Pak Luhut, bisa minggu malam. Biar Pak Luhut cek dan kita.. Saya yakin
itu
SN: Presiden sudah dikasihkan ke Pak Luhut itu
berapa kali. Si Darmo, kalau bapak denger cerita di dalam. Apa yang kita
inginkan bisa, presentasi ke presiden tiap hari.
SN: Presentasi ke presiden setiap hari.
MR: Kalau memang gawat keadaannya, saran saya
jika mau malam sabtu atau malam minggu
SN: Besok
MR: Why not. Pak Luhut oke. Kita ketemu sama Pak
Maroef, hari minggu malam. Kita ngumpetlah. Seeeeeeeet dia action minggu depan.
Nggak lama Pak. Next week two week. Bisa kau angkat akhir Juni selesai urusan.
Begitu ini selesai ini saham bisa
SN: Saya sih yakin itu karena presiden sendiri
kasih kode begitu dan itu berkali-kali. Yang urusan kita di DPR, itu kita
ketemu segitiga, Pak Luhut, saya dan presiden. Akhirnya setuju. Ngomongnya gini
presiden. Saya sudah ketemu presiden cocok itu. Pengalaman ya, artinya ini demi
keberhasilan semua. Ini belum tentu bisa dikuasai menteri-menteri, yang
gini-gini. Enggak ngerti malah bapak
MS: Ada lobbiesnya
SN: Strategi
MS: Ini Henry Kisingernya
SN: Henry Kisinger Hahahaa
MR: Kita ini orang kerja, strateginya. Jadi
Freeport jalan, bapak itu bisa terus happy, kita ikut-ikutan bikin apa.
Kumpul-kumpul. Gua gak ada bos, nggak usah gedek-gedek. Ngapain gak happy.
Kumpul-kumpul. Kita golf. Gitu, Kita beli private jet yang bagus,
representative. Apalagi
SN: Iya
MR: Buat kita itu tak ada yang rakus. Ini mutual
benefit, konsepnya mutual benefit. Barangnya kita semua. Kita semua kerja.
Freeport 51 kasih kita lokal, support financing. Ya Pak
SN: Kalau Freeport menjamin, semua juga gampang.
Semua bank langsung kasih.
MR: Kan itu buat tambang
SN: Otomatis, merem aja itu
MR: Lumayan ini, untuk kumpul-kumpul paling 1
juta dollar.
SN: Hayyaah
MR: Saya ikut masuk ke Dharmawangsa ini, cost
yang mereka bawakan sudah, tapi masih gedean mereka porsinya. Terlalu lama
mereka itu boros. Saya yakin Freeport pasti jalan. Kalau sampai Jokowi nekat
nyetop, jatuh dia.
MS: Yang jadi itu Amerika. Nggak diterima di
Amerika
SN: Pengalaman saya ya Pak. Presiden ini agak
koppig (kopeh, bahasa belanda) tapi bisa merugikan semua. Contoh yang paling
gampang itu PSSI. Apa susahnya ini ya, saya bicara. Saya harus bicara Freeport
itu saya bicara dulu PSSI. Saya bilang, Pak Presiden pengalaman saya zaman SBY,
SBY turun tangan. TVOne yang sudah menyiarkan liga dan lakunya bukan main,
terpaksa harus dihentikan karena sudah teriak-teriak, ini menyangkut sponsor,
pengangguran mereka, menyangkut macem-macem. Jadi bisa menurunkan juga
kredibilitas isu-isu presiden. Presiden, Pak Ketua khusus PSSI saya tidak ada
apa, apa tidak ikut campur dengan pihak mereka. Supaya Indonesia itu bangkit.
Saya bilang, ada peraturan FIFA mengharuskan. Kalau saya yang kurang menguasai,
Ketua MA menyampaikan hukum-hukumnya. Disampaikan pak, hukum-hukumnya. Kalau
sudah bilang enggak, ya enggak, susah kita. Tetap saja. Kita dikte saja. Gitu
Pak. Koppignya dia buat bahaya kita. Kedua, Ketua MA sampai merasani sama saya
enggak berkenan sama presiden. Wah gak cocoklah.
MS: Chemistry enggak nyambung
SN: Enggak nyambung Pak. Ketemu dua kali di
tempatnya Menteri PAN, waktu pelantikan ngobrol itu lagi. Ketemu lagi. Enggaak.
Ini harus kita rekayasa pak.
MS: Pengalaman ini ya Pak
SN: Kadang-kadang dia kalau egonya ketinggian,
ngerusak Pak. Ngono Pak. Makanya pengalaman-pengalaman saya sama dia, begitu
dia makin dihantam makin kenceng dia. Nekat Pak. Waah
MR: Saya kaget itu Pak, Saya kan kenal Jokowi,
lama sekali Pak. Saya itu jodohin terakhir, ngedorong Jokowi jadi capres. Saya,
Pak Hendropriyono dan Pak Budi Gunawan. Seminggu sekali kita rapat di rumah Pak
Hendro ama Jokowi. Paling lambat dua minggu sekali, selama setahun sebelum
capres Pak. Walaah alot Pak, saya suruh ganti baju. Wah, Pak ganti baju dong.
Saya ngobrol sama Karni Ilyas dia kan sosialis. Sosialis kok pengusaha, kalau
sosialis. Itu bukan
SN: Berbahaya Pak. Bahaya kalau dia selalu
begitu. Ada lagi pengalaman saya Pak.
MS: oke
SN: Pengalaman yang betul-betul saya mengalami
bersama-sama Pak ini, bersama-sama Pak Luhut. Akhirnya saya minta tolong Pak
Luhut, untuk memulai pemilihan Kapolri. Itu asli Pak. Bagaimana itu kita
berusaha supaya Budi, karena Ibu Mega yang call, yang telpun. Itu kita pakai
apa aja enggak pak. Itu bisa terjadi pada saat beliau mau ke DPR. Bingung dia
Pak menghadapi DPR gitu. Disuruhlah Menkopolhukam, sama Setneg, sama Mendagri ketemu
saya. Saya bilang udah deh nanti kita atur duduknya gini, enam pertanyaannya
saja deh. Itu telpun lagi, tadi kan semua tim. Dia minta dua saja. Duduknya
minta yang santai, sesantainya, tidak ada pertanyaan yang ini. Wah nanti cuma
bulat-bulat itu Pak. Bagaimana saya menenangkan fraksi-fraksi supaya mau begitu
kan. Banyak akal, pokoknya bisalah. Dia datang, kita akali. Soal BG itu,
pokoknya lari ke BG minta kapolri dia. Nanti Pak Luhut. Saya cepet-cepet ke Pak
Luhut gimana jalan keluarnya. Pak Luhut kasih jalan. Entar gini. kita
malam-malam ya waktu itu. Entar jawabannya gini aja, Presiden ngomong gini soal
BG akan kita serahkan kepada nanti yang terpilih. Siapapun yang diusulkan oleh
pejabat yang terpilih setuju. Ayo kita draft. Draft kita bertiga. Bener Pak
Luhut itu. Begitu draft selesai, Pak Luhut jam 9 keluar lagi, Wah kalau Pak
Jusuf Kalla datang nanti bisa berubah. Pak Jusuf Kalla itu ngotot BG. Ini
bener, Pak Jusuf Kalla itu bener. Itu pun diatur gimana akhirnya presiden bisa
perintahkan Pak Jusuf Kalla enggak datang. Dia pindahkan ke sana, pindah ada
acara. Padahal kita sudah siapin tempatnya itu pak. Jadi satu itu, satu ini.
Jadi waktu pagi-pagi kita rapat jam 10 mundur jam 10,30. Itu jam 08.00 Pak
Luhut datang. Catat aja begitu banyak. Kata Pak Luhut, jangan. Ini cukup
selembar ini. Saya sudah runding dengan saya. Betul kan saya sudah ketemu Pak
ketua. Waktu dia datang, saya buat bercanda buat apa, buat apalah semua.
Akhirnya kita duduk. Saya lihat dia bawa tas kayak orang norak. Ajudan bawa tas
yang isinya banyak yang banyak itu. Itu kertasnya ini. Terus gimana Pak Luhut.
Bapak periksa aja. Nanti saya atur, saya ngomong, bapak ngomong. Kira-kira
nanti kan ada dua hal, soal masalah Kapolri dan soal masalah APBN. Terus dia
ambil. Saya lihat lirikan kertas yang mana yang diambil, kertasnya Pak Luhut.
Jadi waktu di APBN semua fraksi ngomong tapi semua ngomong BG, semua ngomong
BG. PDIP ngantem presiden. Dia berbisik-bisik, masak PDIP sendiri ngantem saya,
saya kan presiden. Tapi gak peduli apapun kehendak Bu Mega gak peduli. Dijawab
pertanyaannya. Setelah saya dengarkan semua soal Pak Budi Gunawan, semua saya
turut tampung tetapi mekanismenya adalah saya serahkan kepada Kapolri yang
terpilih. Persisnya itu dibaca begitu. Dibaca. Ini pengalaman Pak ya. Selesai,
sampailah cerita itu ke Ibu Mega. Marahlah pokoknya, sampai ke Solo dan
macam-macam.
MR: Di Solo ada.., ada Surya Paloh, ada si Pak
Wiranto pokoknya koalisi mereka, Dimaki-maki Pak, Jokowi itu sama Megawati di
Solo. Dia tolak BG. Gila itu, saraf itu. Padahal, ini orang baik kekuatannya
apa, kok sampai seleher melawan Megawati. Terus kenapa dia menolak BG. Padahal
pada waktu pilpres, kita mesti menang Pak. Kita mesti menang Pak dari Prabowo
ini. Kalian operasi, simpul-simpulnya Babimnas. Bapak ahlinya, saya tahu saya
tahu itu. Babimnas itu bergerak atas gerakannya BG sama Pak Syafruddin.
Syafruddin itu Propam. Polda-polda diminta untuk bergerak ke sana. Rusaklah
kita punya di lapangan.
SN: Termasuk Papua
MR: Termasuk Papua. Noken kita habis.
SN: Habis Pak, hampir setengah triliun.
MR: Kapolda Papua itu kan sahabat saya, sahabat
deket.
MS: Tito
MR: Tito. Akhirnya ditarik ke Jakarta supaya
nggak menyolok, jadi Asrena. Sekarang Papua sudah jalan, kasih hadiah sama
Jokowi. Padahal maunya Jakarta bukan dia. Pak BG maunya bukan Tito. Pak BG
maunya Pak Budi. Tapi Budi ditaruh Bandung. Tito Jakarta. Yang minta Jokowi.
SN: Jawa Barat hahaha
MR: Gila Pak. Alot pak orangnya Pak.
SN: Pengalaman itu, maksudnya saya pengalaman
itu. Jadi kita harus pakai akal. Kita harus pakai ini. Kuncinya kan ada
kuncinya. Kuncinya kan ada di Pak Luhut, ada saya. Nanti lempar-lemparan. Ada
dia strateginya. Cek gocek
MR: Darmo ini disayang sama dia karena, Si Darmo
kalau presentasi, lulusan Amerika, sudah kuliah PHD pintar. Jokowi happy terus.
Ini saya tahu. Darmo ngomong Pak itu didengerin. Gitu Pak
SN: Cuma sudah dibeli gara-gara ketemu bapak,
dikunci, sreeeet. Berubah
MR: Dikawanin lah.
MS: Hasil lobi ya
SN: Semuanya, semua istana beliau bisa biaya yang
lain-lain, biayain semualah.
MR: Sebelum bubarin Pak, kalau gak gini Pak. Saya
ini kan pedagang, Saya ikutan politik kan karena teman-teman saja. Baik, gak
cerai. Saya pedagang. Saya bilang eh ini saatnya damai. Kita kumpulin semua
yuk. Kumpul Bang Ical, Anis Matta, Hatta, pokoknya semua kita kumpul.
SN: Panggil Pak Luhut
MR: Kita undang Pak Luhut datang. Saya siapkan
depan. Ada Pak Luhut ama timnya. Saya bilang itu, saat ini kita sudah kalah.
Kalah Pilpres. Tapi kita akan balas tahun 2019. Cuma sekarang kita harus
berdamai membangun negara. Jangan ikut. Presiden sama wapres enggak boleh
diganggu, saya bilang. Kita cari makan. Sekarang Pak Luhut yang ada di sana,
Ini temen-temen dan kita minta ikutlah Pak Luhut. Coba Pak Luhut sampaikan ke
Jokowi. Kalau mau sepakat begitu kita dukung. Ini saran saya. Mulai ngomong
rurururuurr. Akhirnya sepakat pak malam itu, oke kita dukung Jokowi JK supaya
sukses. Nanti 2019 ceritanya lain. Langsung deh pada dukung Jokowi, pada ketemu
Jokowi semua. Prabowo apa dukung Jokowi. Sejak itu. Makanya Pak, DPR gak pernah
ganggu Jokowi. Gak pernah ganggu Jokowi. Malah yang enggak mendukung Jokowi itu
PDIP. KMP enggak, semuanya mendukung. Itu kita happy juga sih. Kalau negara
aman kita punyajalan. Tapi kalau ribut terus di palemen, pusing kepala.
Bayangin sudah kurang aman negara, ekonominya ancur.
SN: Kesalahan menteri-menterinya juga.
MR: Ya presiden juga andil.
SN: Ya kita harus jujur
MR: Kalau Pak JK presiden,
SN: Wah terbang kita.
MR: Atau dia pasrahin Pak JK urus ekonomi saja,
saya pergi dah blusukan. Pak JK urus saja ekonomi
SN: Ya tapi sekarang sudah dibatasin terus
presiden
MR: Obyektif ya Pak, kita pengi ada growth,
bisnis kita jalan, semua orang gitu kan. Gaji lancar pajaknya gak gila-gilaan.
Pajaknya gila Pak. Pajaknya dahsyat Pak
MS: Semua macam-macam dipajakin ya
SN: Hancur
MR: Iya.
SN: Mobil jeblok, orang beli gak bisa. Perbankan
gak mau lagi, hancur.
MR: Kalau Freeport mah gak ada kaitannya sama
ini. Kalau saya ada ritel, saya punya air lines, hancur berdarah. Rupiahnya
jelek marketnya drop. Saya ada perusahaan ritel, saya punya toko-toko orang
perempuan di mall-mal, gubrak, waduh gila pak. Bagaimana nasibnya. Perkebunan
sawit juga jeblok perusahannya. Gimana pula
SN: Gak ada uang
MR: Gak ada uang. Rakyat udah gak ada uang. Gak
ada demand, drop.
MS: Itu konsep PP 15 untuk sawit gak jalan Pak?
Padahal itu konsepnya presiden untuk CPO
MR: Hancur pak, hancur Pak
SN: Presiden itu senang meresmikan meresmikan.
Tapi sekarang gak jalan. Sekarang dia serahin ke Pak Jusuf Kalla. Saya ketemu
Pak Jusuf Kalla. Jusuf Kalla bilang wah ini banyak yang gak jalan. Saya bilang
jangan meresmikan terus
MR: Kalau pak JK itu pengusaha.
SN: Bagus itu Pak
MS: Dia bisa menghitung
MR: Bagus Pak. Dia bisa mengcreate. Kalau tahu
sekarang kita lagi berdarah. Dia gak mungkin menghindari, dia tidak akan diam.
Dia akan cari akal. Jokowi mana mau ketemu kita. Allah
SN: Ini kaya PSSI babak belur.
MS: Kita kan sponsor Persipura. Bubar Pak. Pada
ngirim surat mau membubarkan. Kasihan Persipura
MR: Pemain bola itu kalau dia gak main dua bulan,
otot-ototnya rusak semua
MS: Drop semua. Sakit semua. Sakit jantung semua
Pak
SN: Kembali itu Pak. Pak Luhut ditakutin, enggak
bisa enggak
MR: Sebetulnya lepas dari apapun, nasibnya jelek.
Jujur saja ya Pak, nasibnya jelek sebagai bangsa Indonesia. Mendingan karena
Jokowi tapi kita kan berdarah. Masak musuhan itu kan gilaaa. Aduuhhh. Ampuuunnn
ampuunnn.
SN: Ampuun
sumber:
http://print.kompas.com/baca/2015/12/02/Inilah-Transkrip-Percakapan-Setya-Novanto-dan-Riza
Tidak ada komentar:
Posting Komentar