me

me

Kamis, 21 Agustus 2014

a way

“Ketika yang mencinta akan kalah dengan yang selalu ada dan ketika yang selalu ada akan selalu kalah dengan yang sudah siap”

Aku memang belum pernah berlayar menelusuri lautan. Dan aku pun belum pernah berjalan melintasi benua. Yang aku pernah lalui ialah perjalanan kita. 5 tahun sudah kita tapaki. Senang sedih sudah kita lalui bersama. Dan 5 tahun adalah bukan waktu yang sebentar. Memalukan jika berakhir nestapa.
Ini bukan soal malu. Bukan soal malu jika hubungan ini tetap bertahan. Tapi soal perasaaan. Perasaan yang entah tak dapat digambarkan. Itulah perasaan cinta. 

Aku pernah mencintai mu tanpa sebab. Tanpa alasan. Sederhana . dan kau pun begitu kepada ku.
Kita pernah menelusuri perjalanan lintas kota, begitu lama. begitu banyak hambatan. Jatuh, sengsasara, jenuh sudah kita rasakan bersama.
Rasa bahagia, kepuasan, rindu, kemesraan. Itu semua pun tak pernah surut menyertai tiap pertemuan kita.

Sekarang sudah tahun kelima perjalanan ini. aku adalah aku dan kamu adalah kamu. Kondisi kita bukan seperti saat pertama kali bertemu. Disaat satu sama lain berusaha merebut hati yang lain. berusaha mendapatkan perhatian. Tak peduli saat itu ada prioritas lain. ujian nasional, tes masuk perguruan tinggi. Tapi kita terus berusaha mendapatkan hati sesama. Dan terwujud itu semua.
Kita menjadi pribadi yang mencinta. Namun nyatanya kita terpisah jarak di kemudiannya. Entah sudah berapa kota kita berjarak. Malang, jogja, Jakarta, purbalingga, dan entah apa lagi. Kita memang saling mencinta. Tapi ketika kita terpisah kita bukan menjadi yang selalu ada bagi sesama. Mungkin.

Walau begitu, kita tetap berusaha membagun rasa itu. Berusaha untuk menjadi yang selalu ada. Berkorban adalah caranya. Entah sudah berapa rupiah yang kita telah habiskan untuk itu. Entah sudah berapa waktu yang kita luangkan untuk itu. Dan entah berapa kesepatan yang lebih berharga yang sudah kita lewatkan untuk itu. Dan sudah berapa banyak cinta kepada orang lain yang terlewatkan. Berkorban. Untuk menjadi orang yang selalu ada.
Usia 5 tahun. Bukan masa untuk menjajaki lagi. Tahapan pernikahan lah seharusnya. Bukan masa nya lagi di bangku perkuliahan. Masa pekerja lah seharusnya. Kamu sudah siap untuk itu. Dan aku belum.
Kita lupa. Pernikahan bukanlah bersatunya hubungan kita. Tapi juga bersatunya hubungan keluarga kita.

Entahlah perbedaan dan ketidak cocokan  menyerebak. Ya. Tidak seektrim perbedaan agama memang. Tapi ketidak siapan kita menjalani perbedaan itu. Kita tidak siap. Entah siapa yang siap nantinya. Untuk menjadi pendamping kita nanti. Apakah kita nantinya siap. Ataukah ada yang lebih siap diluar kita.

Jika nanti begitu. Benarlah pepatah didepan itu. Yang mencinta dan selalu ada akan kalah dengan yang sudah siap. sangat tidak adil memang.

Aku sedang berusaha untuk menjadi siap. 
Kepadamu tuhan, aku mohon ampun

Tidak ada komentar: