“Ketika yang mencinta akan kalah dengan yang selalu ada dan
ketika yang selalu ada akan selalu kalah dengan yang sudah siap”
Aku memang belum pernah berlayar menelusuri lautan. Dan aku
pun belum pernah berjalan melintasi benua. Yang aku pernah lalui ialah
perjalanan kita. 5 tahun sudah kita tapaki. Senang sedih sudah kita lalui
bersama. Dan 5 tahun adalah bukan waktu yang sebentar. Memalukan jika berakhir
nestapa.
Ini bukan soal malu. Bukan soal malu jika hubungan ini tetap
bertahan. Tapi soal perasaaan. Perasaan yang entah tak dapat digambarkan. Itulah
perasaan cinta.
Aku pernah mencintai mu tanpa sebab. Tanpa alasan. Sederhana
. dan kau pun begitu kepada ku.
Kita pernah menelusuri perjalanan lintas kota, begitu lama.
begitu banyak hambatan. Jatuh, sengsasara, jenuh sudah kita rasakan bersama.
Rasa bahagia, kepuasan, rindu, kemesraan. Itu semua pun tak
pernah surut menyertai tiap pertemuan kita.
Sekarang sudah tahun kelima perjalanan ini. aku adalah aku
dan kamu adalah kamu. Kondisi kita bukan seperti saat pertama kali bertemu. Disaat
satu sama lain berusaha merebut hati yang lain. berusaha mendapatkan perhatian.
Tak peduli saat itu ada prioritas lain. ujian nasional, tes masuk perguruan
tinggi. Tapi kita terus berusaha mendapatkan hati sesama. Dan terwujud itu
semua.
Kita menjadi pribadi yang mencinta. Namun nyatanya kita
terpisah jarak di kemudiannya. Entah sudah berapa kota kita berjarak. Malang,
jogja, Jakarta, purbalingga, dan entah apa lagi. Kita memang saling mencinta. Tapi
ketika kita terpisah kita bukan menjadi yang selalu ada bagi sesama. Mungkin.
Walau begitu, kita tetap berusaha membagun rasa itu. Berusaha
untuk menjadi yang selalu ada. Berkorban adalah caranya. Entah sudah berapa
rupiah yang kita telah habiskan untuk itu. Entah sudah berapa waktu yang kita
luangkan untuk itu. Dan entah berapa kesepatan yang lebih berharga yang sudah
kita lewatkan untuk itu. Dan sudah berapa banyak cinta kepada orang lain yang
terlewatkan. Berkorban. Untuk menjadi orang yang selalu ada.
Usia 5 tahun. Bukan masa untuk menjajaki lagi. Tahapan pernikahan
lah seharusnya. Bukan masa nya lagi di bangku perkuliahan. Masa pekerja lah
seharusnya. Kamu sudah siap untuk itu. Dan aku belum.
Kita lupa. Pernikahan bukanlah bersatunya hubungan kita. Tapi
juga bersatunya hubungan keluarga kita.
Entahlah perbedaan dan ketidak cocokan menyerebak. Ya. Tidak seektrim perbedaan agama
memang. Tapi ketidak siapan kita menjalani perbedaan itu. Kita tidak siap. Entah
siapa yang siap nantinya. Untuk menjadi pendamping kita nanti. Apakah kita
nantinya siap. Ataukah ada yang lebih siap diluar kita.
Jika nanti begitu. Benarlah pepatah didepan itu. Yang mencinta
dan selalu ada akan kalah dengan yang sudah siap. sangat tidak adil memang.
Aku sedang berusaha untuk menjadi siap.
Kepadamu tuhan, aku
mohon ampun
Tidak ada komentar:
Posting Komentar