Sebuah tanggub jawab besar yang saya emban ketika memimpin sebuah perusahaan yang mempunyai karyawan karyawan.
Tak hanya visi, leadership, dan kecerdasan yang harus di miliki.
Mental yang kuat juga harus melekat seiringan. Mendengar dua kata di awal, mungkin abstract sekali mendefinisikannya. Apa itu mental yang kuat.
Secara teoritis mungkin bisa kita cari di google search engine atau buku buku motivasi atau psikologi.
Disini saya mau share satu contoh mental yang kuat yang saat ini sedang saya latih. Yaitu tebal kuping.
Biasanya orang lebih akrab dengan istilah tebal muka untuk mengartikan sebuah sikap percaya diri. Kita menyadari setiap konflik yang terjadi berawal ataupun melibatkan indra pendengaran.
Saya membayangkan seorang yang tuli. Mau di caci maki seperti apapun secara verbal. Ia tidak akan marah. Karena ia tidak mendengar.
Membawahi beberapa karyawan. Saya mendapatkan pengalaman yang tidak enak. Cibiran cibiran saya dapati. Di belakang dan di depan saya. Seorang ghozi yang sangat sensitive mudah sekali terpancing. Sehingga membuat pikiran tidak bisa fokus dan konsen secara maksimal.
Visi dalam hidup saya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dan salah satu misi untuk mencapai itu adalah memperjuangkan orang lain.
Indikator keberhasilannya adalah orang orang yang saya perjuangkan bangga pada saya.
Kegagalan adalah masalah biasa.
yang tidak biasa adalah tanggapan orang dalam menyikapi kegagalan itu.
Dan saya ingin mempunyai tebal kuping. Bukan saya tidak mau tau. Bukan tak peduli. Tpi saya tak peduli, jika kepedulian saya belum maksimal. Dan saya terus berusaha memaksimalkan nya tanpa peduli pada cibiran orang
Tidak ada komentar:
Posting Komentar