me

me

Minggu, 12 Maret 2017

Waktu saya berada di orde baru.

Sebagai orang yang mempelajari ilmu politik. Saya sering membuat pertanyaan.
Kenapa ada sebuah klasifikasi waktu di era politik pasca indonesia merdeka. Ada orde baru, orde lama, dan reformasi.

Pertanyaan filosofis nya kenapa dinamakan orde lama , orde baru, dan era reformasi.

Tanpa menjelaskan 3 itu. Kita sama sama tau. Orde lama itu soekarno, orde baru itu soeharto. Dan reformasi belum bertuan.

Diskusi diskusi warung kopi menyebutkan yang menamai itu semua adalah wartawan. Pada saat zaman soeharto. Terjadi perombakan tatanan struktur pemerintahan besar besaran. Modernisasi ala soeharto. Orang menyebutkannya sebagai era pembangunan. Orde baru indonesia. Atau era baru indonesia.
Maka dengan sendirinya, tanpa mengurangi penghormatan terhadap soekarno. Disebutkan saat itu adalah era lama. Era perjuangan dan pembentukan kedaulatan. Orde lama.

Saat era baru itu. Aku masih kecil. Secara langsung aku tak mengalami secara langsung efek pembangunan. Yang katanya berdampak pada otoriteriasi.
(Oke, mungkin ini aku akan bahas tersendiri)
Yang aku tau, abi ku( ayah) adalah seorang aktivis dakwah. Juga ummi ( ibu). Mereka berdakwah secara sembunyi sembunyi. Tak ada ruang private di indonesia. Agama harus di selenggarakan oleh negara. Dampaknya kedua orang tua harus ngumpet ngumpet kalo ada pengajian. Dan menurut cerita. Aku sering diajak pengajian itu secara sembunyi sembunyi.

Aku hanya merasakan era baru itu selama 7 tahun. 1991 - 1998. Yang kutahu saat era itu hanya kebahagiaan bagiku. Aku bermain bebas, main layangan sesuka ku. Main petak umpet. Main petak jongkok. Main galaksin. Main bola sampai maghrib menjelang. Jajan jajan abang abang. Main ke ancol dan taman mini sesering mungkin. Bahagia nya saat itu.

Sampai akhirnya aku SMA dan aku kuliah.
Dan kutahu dari pelajaran sejarah dan diskusi aktivis bahwa Orde baru kejam. Tanpa pernah aku mengalaminya.
Hmmm...oke..

Disaat yang sama, aku saat itu juga sering  diskusi dan baca buku, bahwa pada zaman soeharto terjadi "penyeragaman sejarah." Sejarah tentang PKI dan komunis utamanya. Para aktivis kiri beranggapan bahwa yang diceritakan pki dan komunis itu kejam hanyalah karang karangan soeharto." Agar kita memusuhi PKI" Teman teman ku yang tinggal di daerah madiun, banjarnegara, hidup dilingkungan pki. Dan mereka menganggap pki baik baik saja. Tak sejahat cerita disejarah.
Hmm..oke.

Aku sebagai anak kecil yang  7 tahun hidup di era soeharto. bahagia bahagia aja. Orang tua ku yang skitar 32 tahun mengalami orde baru " jarang" sekali menceritakan "kekejian" orde baru. Hanya terakhir aku pernah di ceritakan tentang petrus, kasus priok dan kejadian 98. Itu pun diceritakan. Dalam memoriku, saat kecil aku bahagia bahagia aja.  Sampai pelajaran sekolah dan diskusi kampus membuat ku kritis dan membenci orde baru.

Memakai thesis tentang penyeragaman sejarah. ( aku lupa siapa yang nulis, salah satu editornya itu max lane. Indonesianis asal australia) bahwa sejarah memiliki perspektif. Dan sering sekali kita di paksa untuk memiliki perspektif yang sama terhadap sejarah.

Ketika sejarah saat itu menyebutkan PKI dan komunis kejam, banyak buku dan diskusi menyebutkan bahwa itulah cara soeharto untuk memberangus PKI dan komunis yang mengancam kekuasaaanya.

Jikalau begitu, jika sejarah saat ini mengatakan orde baru itu jahat. Kira kira siapa yang membentuk framing demikian. Dan untuk apa dan siapa?

Sekian, selamat berpikir:)


Tidak ada komentar: