me

me

Jumat, 17 Maret 2017

Memahami Al maidah Ayat 51 dalam perspektif politisasi

Akhir akhir ini saya sering melihat perdebatan mengarah perpecahan diantara kita. Perpecahan yang mencederai sesama umat beragama maupun lintas agama.

Topik nya sekitar surat almaidah ayat 51.
Dan tulisan ini berisikan pandangan saya akan hal ini.

Insya Allah saya sudah beberapa kali mengkhatamkan Al Quran ( membaca semua surat). Khususnya ketika bulan Ramadhan. Terkait Almaidah ini saya tidak pernah mengkhususkan ataupun melihat secara spesifik ayat ini , apalagi artinya. Tentu ini bukan lah kebanggaan. Ini adalah kelemahan saya. Yang hanya membaca sebuah ayat ayat Quran. Tapi jarang sekali mengetahui maksud dan artinya.

Bahasan bahasan terkait memilih pemimpin non muslim juga sangat jarang saya temui. Hanya dulu pernah waktu liqo ( halaqoh) pas SMA. Seorang teman bernama Adam. Ia pernah menanyakan hal tentang berteman dengan orang kafir. Orang yang diluar islam. Saya baru menyadari, mungkin dulu ini yang di bahas adam. Surat al maidah. Dia bilang ke kakak murabbi kami. " ustadz, kalo kita ga boleh berteman atau memilih pemimpin orang non muslim . Lalu gimana sikap kita ke mereka ? Masa bergaul aja tidak boleh " jawaban kakak murabbi ini , namanya kak tegas, teguh supriyanto. Dia cuma jawab. Kalo masalah tafsiran ayat. Memang kak tegas ga berhak untuk menjawab. Dengan segala kekurangan kak tegas yang punya. Tapi untuk menjawab kegelisahan adam. Kak tegas ingin bilang. Selama ada pemimpin muslim yang dia baik( dikategorikan baik) lebih memihak umat muslim. Maka orang non muslim jangan dipilih. Kalo teman sama bergaul itu beda. Kan prinsip kita bergaul dengan siapapun. Tapi selektiflah dalam mencari teman. Bergaul dengan non muslim silahkan saja. Akrab juga gapapa. Tapi mempercayakan segala urusan kamu ke teman itu jangan. Kalo masalah pemimpin nanti pasti berkembang. Kalo wali kelas saya non muslim gimana? Wali kelas itu bukan kamu yang memilih. Tapi kamu terima jadi. Jadi ga masalah. Kamu sebagai bos misalnya, punya karyawan non muslim. Asalkan dia orang bisa di percaya, kamu jadikan kepala bagian yang membawahi orang muslim ga masalah. Asalkan kamu yang bos nya. Tapi klo memilih pemimpin dan kami di tawari pilihan. Selama masih ada pemimpin muslim yang masih mumpuni. Pilihlah yang muslim. Tanpa harus membenci yang non muslim.

Sepanjang hidup saya mungkin itu yang pertama. Dan satu satu nya diskusi almaidah ayat 51. Di halaqoh kami. Tidak ada pilkada saat itu. Kami hanya siswa siswa yang tengah mempelajari islam lebih jauh. Dan murabbi kami , kak tegas adalah ketua dpc matraman.

Sebelum akhirnya pilkada 2017 muncul. Ahok sebagai non muslim  mencalonkan diri sebagai pemimpin. Umat islam lantas menggaungkan almaidah ayat 51. Ahok secara pribadi mengatakan. Ada juga tafsiran yang membolehkan memilih pemimpin non kok. Jangan mau di bodohi lah. Itu katanya. Kasus bergulir. Ahok di pidanakan. Dan sampai saat ini pengadilan masih berjalan. Ahok minta maaf. Namun masih kekeh, pemimpin non muslim boleh di pilih. Gusdur yang bilang kepadanya. Akhirnya banyak juga tokoh2 islam yang perlahan mendukungnya.

Saya melihat ada dua yang bersaing disini. Dengan sebuah pertanyaan? Boleh ga sih memilih non muslim? Banyak ulama islam mengatakan tak boleh. Ahok dan pendukungnya yang juga tokoh tokoh islam bilang boleh. Masing masing mencoba mempengaruhi dan mengingatkan umat muslim yang masih ragu dan belum menentukan sikap.

Al Quran dan al maidah ditafsirkan berbagai kalangan. Termasuk non muslim itu sendiri.

Banyak yang bilang Alquran di politisasi oleh orang islam yang melarang memilij ahok.

Saya mau menjawab ini. Iya ayat Quran di politisasi oleh penolak ahok . Dan juga pendukung ahok. Yang mencoba mempengaruhi orang lain meyakini keyakinannya. Bagi saya politisasi bukan hal yang negatif. Politisasi adalah sebuah upaya untuk saling mempengaruhi seseorang agar orang tersebut terpengaruhi. Jadi politisasi ga ada yang salah.

Yang salah adalah cara mereka mempolitisasi. Dengan kata kata kotor, diskriminasi, dan kebohongan. Oleh kedua belah pihak. Itu yang bagi saya buruk dan negatif.

Saya bukan orang yang ahli agama. Namun saya mencoba menjadikan alquran sebagai pedoman hidup saya. Walaupun saya lebih dulu mendapatkan pencerahan tentang tafsir almaidah. Bahwa dilarang pemimpin non. Saya mencoba melihat tafsiran para pendukung ahok secara seksama.
Bagi saya tiap konten tak bisa di perdebatkan. Karena masing masing meyakini itu adalah kebenaran.

Jika saya orang yang belum menentukan sikap. Maka saya akan mengambil jalan yang bijak. Tafsiran tafsiran yang banyak itu membuat keragu raguan. memilih yang aman adalah meyakini yang secara tekstual tanpa tafsiran. Memilih pemimpin muslim.

Logika sederhananya gini. Ada suatu ayat yang di tafsikan A dan B. Jika kamu mengerjakan tafsiran A. Dalam tafsiran B kamu ga dapet dosa atau kesalahan. Dan di tafsiran A, mengerjakan pilihan  A adalah kewajiban.

Jika kamu memilih tafsiran B. Dalam tafsiran A kamu bisa dapet dosa dan kesalahan. Dan mengerjakan tafsiran B adalah pilihan. Ga juga gapapa.

Maka jika kamu berada di keraguan adalah pilihlah dan yakini tafsiran A.

Tafsiran A adalah jangan memilih pemimpin non muslim

Tafsiran B adalah boleh memilih pemimpin non muslim.

Apa yang saya ungkapkan diatas. Adalah upaya untuk mempengaruhi. Dan itu adalah politisasi.

Politisasi boleh. Asal caranya baik . Dan tanpa menyakiti.

Terimakasih

Tidak ada komentar: