Punya apa anda. Berani berani nya melamar anak anda.
Sarjana pun tidak. Bekerja pun tidak.
Lantas punya apa. Siapa anda.
Pak seperti layaknya perusahaan. Dalam pendirianya dia harus memiliki legal.
Namun dalam pendirian legal dia tak punya penghasilan.
Namun setelah legal itu terbentuk. Barulah sang perusahaan mendapatkan penghasilan.
Dek. Manusia bukan hanya adek. Banyak yang seumuran adek. Punya yang tidak kamu punya. Saya bisa saja jika menyerahkan anak saya ke mereka itu.
Hufft. Pak saya tak bisa menjamin kemapaman dan kebahagian untuk anak bapak. Mungkin saya tak punya apa yang orang lain punya. Saya orang yang tak bisa membawa suasana.
Tapi saya sudah kenal anak bapak sejak lama. Dan saya tau apa yang bapak tidak tahu. Saya tahu apa yang orang lain tidak tahu ttg anak bapak. Saya layak bersanding dengan anak bapak.
Saya mencintai anak bapak lebih dari orang lain mencintainya.
Saya hanya bisa menjadi seperti sebuah sepatu yang pas dikenakan. Membuat nyaman terlindungi. Mengantarkan ke tempat tujuan. Menemani dan menunggu nya.
Saya seperti sebuah sepatu pak.
***
Teman diatas bukanlah kisah nyata. Hanya fantasi dalam diri tanpa skenario. Mengalir begitu saja.
10 bulan menjelang pernikahan. Atau 6 bulan menuju lamaran.
Saya cemas. Saya nervous.
Mengapa di akhir ini hanya masalah materi yang selalu menguntit. Walaupun memang itu realitanya.
Layak kah aku menjadi imam. mau kah ia menerima dan memasrahkan diriku menjadi imam.
Bekal apakah yang dapat menjadikan ku demikian.
Mampukah aku. Layak kah aku.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar