me

me

Jumat, 31 Juli 2015

Pendengar

Pada sebuah gagasan menarik tentang demokrasi. Demokrasi ialah mendengarkan. Apa yang orang lain katakan. Menghargai setiap apa yang dikatakan. Sebuah prinsip keadilan dan keselarasan
Demokrasi adalah mendengarkan.  Seorang pejabat publik mendengarkan keluhan dari sang yang diwakili nya. Sebagai wujud representasi dan juga tanggung jawab. Untuk kemaslahatan bersama.
Allah sangat pro demokrasi. Mengajarkan kita untuk mendengar. Menciptakan dua telinga tapi hanya satu mulut.

Dalam kehidupan ku. Aku sangat demokrasi. Dalam forum forum diskusi yang tidak mengharuskan aku berbicara. Ak sangat nyaman berpikir liar sambil mendengarkan. Sampai pada saat aku mempunyai hak untuk berbicara.

Dalam membangun relasi. Terkadang aku lebih banyak mendengar. Banyak cerita, gokil, gembira ria, sedih. Semua aku dengar.
Semua orang bercerita pada ku akan segala hal. Tanpa memberikan aku kesempatan bicara .
Dan aku berpikir. Apa yang menyebabkan aku lebih banyak introvert. Aku tahu rasanya sebagai pendengar yang tak punya hak bicara. Tertekan.
Dan aku tak mau orang lain mendapatkan perasaan yang aku dapatkan.

kemarin aku dapat sebuah rumus canggih.
Allah dulu, allah lagi, allah terus.

Ketika aku ga mau merasakan orang lain tertekan karena cerita ku atau kegundahanku.
Aku punya resep untuk bercerita dulu semua nya ke allah. Tiap waktu waktu doa bukan hanya kuperntukan untuk meminta. Ada share keadaan hati saat itu. Sampe plong.

Toh tetep akhirnya ak talk to other. Tapi sekenanya. Dan ga berharap mendapatkan feedback. Hati sudah plong.
Terimakasih sang maha pendengar.
Sang maha demokratis

Tidak ada komentar: